Headline semua media dalam 7 hari belakangan ini tentulah terfokus pada isu, gonjang-ganjing, dan intrik pemilihan calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia (KAPOLRI). Sampai hari Senin 4 Oktober 2010 mencuat dua nama yang menjadi kandidat kuat Kapolri, mereka adalah Komjem Imam Sudjarwo dan Komjen Nanan Soekarna. Belum lagi nama seperti Komjen Ito Sumardi diprediksi bakal muncul di detik-detik akhir.
Ditengah gonjang-ganjing dan intrik tersebut, tiba-tiba sang presiden mencuatkan satu calon tunggal pengisi pos yang ditinggalkan oleh Bambang Hendarso Danuri tersebut. Buat saya pribadi hal ini hanya layaknya seperti intrik yang penuh lelucon. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan jam, dua nama yang sebelumnya diajukan oleh Kapolri dan Kompolnas seperti hilang tertiup angin kencang kepentingan. Hilang tertelan arus kepentingan politik dan kepentingan angkatan.
Padahal keduanya, baik Komjen Imam Sudjarwo atau Komjen Nanan Soekarna, sudah melalui proses seleksi internal dan cenderung lebih terjamin bebas kepentingan politik. Mencuatnya nama Timur Pradopo sebagai calon tunggal mengejutkan banyak pihak. Semua kalangan seperti kebingungan apa dasar yang membuat sang presiden memilih beliau. Dalam hal ini, proses pemilihan terkesan seperti proses pengkarbitan.
Bagaimana tidak bisa dibilang karbit?. Legalisasi Timur Pradopo terlihat dengan cara mengangkatnya sebagai Kabaharkam agar pangkatnya naik menjadi Komjen secara instan. Belum lagi jika ditarik ke belakang, dimana Timur baru menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya selama empat bulan. Dan hari ini ia sudah menjadi calon tunggal Kapolri.
Terlepas dari intik apa yang sedang dimainkan, atau latar belakang kepentingan apa yang mendasari pemilihan Timur Pradopo sebagai calon tunggal. Strategi permainan tetap ada pada sang presiden dan DPR sebagai institusi tunggal yang bisa meloloskan Timur menjadi Kapolri yang baru.
Yang bisa saya lakukan sekarang hanyalah tertawa keras, menertawakan bentuk kelucuan dan kekonyolan yang sedang dipertontonkan oleh para elit kita. Begitu lucunya saat ujian yang diselenggarakan DPR pesertanya hanya satu orang. Serendah apapun nilai yang didapat peserta tunggal itu, jika penguji suka maka luluslah dia, begitu juga sebaliknya. Tidak ada kompetisi, tidak ada calon pembanding.
Anak kecil pun akan heran dan bertanya "Ma, kok yang ujian cuma satu orang?, aku disekolah kalo ujian kok rame-rame?".
No Response to "Peserta Ujian Hanya Satu Orang?, Lucunya Negara Ini."
Post a Comment